Pamanku Meninggal
Waktu itu siang hari sekitar hampir jam 12 siang, aku dan sepupuku menuju rumah sakit untuk menjaga pamanku yang sedang sakit, kalau tidak salah hari itu bibiku sedang mengurus BPJS dan kami berdua kesana untuk menggantikan bibiku untuk penjaga paman.
Diperjalanan seingatku hujan dan kami berhenti di sebuah toko yang tutup di dekat tikungan jalan, aku dan ponakanku menunggu sambil mengobrol, sesekali ku lihat angkot dalam kota kesana-kemari, ya angkot dalam kota punya ciri khas warna tersendiri dan juga striping custom gambar-gambar keren, berbeda dengan angkot di desaku.
Sambil mengobrol tak terasa hujan tidak reda-reda, di sela-sela gerimis sepupuku mendesak kami untuk cepat pergi kerumah sakit, lalu kami pun lekas cabut dari situ walau pun gerimis, lalu sampailah kami di rumah sakit itu, kami mencari parkir dan lekas pergi ke dalam ruangan paman kami dirawat.
Kami berdua yang polos, berjalan bersama menuju ruangan itu melewati beberapa ruangan lainya, dengan harapan paman kami sudah sehat, sebelum sampai keruangan ada kantin yang kami lewati, ada satpam yang jaga lorong, ada orang-orang berdiri dan duduk di sepanjang lorong menjaga atau menjenguk sanak-saudara mereka yang sakit.
Sesampainya di ruangan aku pun menyapa pamanku, "gimana paman apa sudah membaik?", pamanku tidak menjawab, kepalanya bergetar, seperti kejang, sepupuku langsung mengis melihat ayahnya seperti itu, baju pamanku basah, keluar keringat dingin banyak sekali, lalu aku lap pakai tisu, cuma waktu aku mengambil tisu ternyata itu tisu milik pasien sebelahku, lalu ia pun menegur pelan-pelan, "mas itu tisu saya", oh maaf kataku, lalu ada yang menjelaskan kalau bibiku belum juga datang dari tadi keluar mengurus BPJS, kata yang jaga pasien sebelah, pamanku tadi pagi masih bisa bicara, masih bisa begerak, namun siangnya semakin kritis, kami berdua aku dan sepupuku pun kebingungan harus bagaimana, pasien sebelah menyarankan untuk kami memanggil dokter, tidak lama dokter pun datang namun dokter hanya memeriksa pasien-pasien lainya, pamanku tidak diperiksa, mungkin dokter tau kalau pamanku sedang masuk tahap kritis, kami berdua tambah kebingungan.
Akhirnya kami mencoba menghubungi bibi kami namun tidak terhubung, sambil berdoa, beberapa saat menunggu pamanku itu tiba-tiba mengeluarkan busa dari mulutnya lalu muntah, waktu muntah itu kami tidak maksud kalau paman kami sudah tidak ada, kami cepat-cepat memanggil perawat, lalu paman kami di cek dan ternyata sudah meninggal, lalu bibi kami iun datang dan menanggis, kebetulan disitu ada perawat teman bibi kami, akhirnya dia yang urus paman kami, lalu paman kami diselimuti dari ujung kaki ke ujung kepala, habis itu kami menuju ruang jenazah, di ruang jenazah kami ditanya oleh supir dan temanya, rumahnya dimana, kami jawab, rumah kami jauh di desa, lalu kami bagi tugas, sepupuku membawa motorku, lalu aku naik ambulan bersama bibiku, perawat teman bibiku dan pak sopir yang tadi nanya alamat kami.
Ambulan meraung-raung di sepanjang jalan dan berjalan cukup kencang, kulihati kerandanda pamanku, sambil sesekali melihat jalan dan mobil-motor dibelakangku, suasana duka menyelimuti perjalanan kami, ya rasanya sedih dan shock saat itu.
Lama kemudian akhirnya kami sampai di rumah duka, paman kami kami turunkan, dan orang sudah kumpul disitu menunggu jenazahnya, lalu kami bawa jenazahnya ke dalam rumah dan di baringkan di atas meja.
Lalu aku mengambil aqua dan ku tawarkan ke bapak sopir itu, selanjutnya aku duduk dan ngobrol bersama pamanku yang lainya, sesekali ku lihat para pelayat adalah rekan-rekan alm pamanku yang mulai datang melayat di hari itu, ku lihat juga ibu-ibu memetik bunga dan ada terlihat juga ibu-ibu dan bapak-bapak yang lainya membersihkan rumah, setelah itu jenazah dimandikan, lalu dibersihkan, sebelum dilakukan ibadah penghiburan di rumah duka.
Kalau tidak salah jenazah di inapkan sehari, karna menunggu keluarga dari pamanku datang, seingatku ibadah malam, lalu ibadah pagi, lalu dikuburkan siang harinya, aku ikut membawa jenazah pamanku naik mobil L300 menuju pemakanan bersama beberapa orang lainya, lalu dikuburkanlah dia disana.
Kenang-kenangan ku denga Pamaku:
• Aku sering mengantar pamanku ke gunung batu tempat ia bekerja sebagai mandor disana.
• Pamanku suka cerita tentang komputer, dia tertarik dengan komputer dan ingin merakit komputer, lalu aku pernah mengantarkanya membeli komputer impianya.
• Pamanku pernah menemaniku mencari alamat kerja, dulu karna belum ada GPS di hp, jadi kami meninjau alamat kerja secara manual dengan motoran.
• Ibadah Natal bersama, jadi sohib kalau ada acara ibadah.
• Dulunya bekerja di tambak udang, aku ingat waktu masih kecil ikut bibiku ke tambak udangnya naik kapal speed boat, disana ada rawa dan jembatan gantung.
Setelah kepergian pamanku, aku kehilangan, tidak ada lagi teman ke gunung, tidak ada lagi teman ibadah, tidak ada lagi teman berdiskusi tentang komputer, dll.
Ya, sekarang tinggal kenangan, pamanku meninggal sekitar tahun 2016/2017, lupa juga udah lama, cuma di tahun 2024 ini makamnya sudah dikijing oleh bibiku, mungkin 2 minggu yang lalu makamnya di kijing.
Ya semoga pamanku tenang di alam sana, semoga diampuni segala dosanya dan mendapat jalan yang mudah di sorga, kami disini yang masih hidup ya masih perjuang untuk bertahan hidup sehari-hari, melewati berbagai macam rintangan hidup, melewati segala macam cobaan hidup dan semoga kami selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa.
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar