Hantu Penunggu Pohon
Alkisah hiduplah seorang gadis yang cantik jelita bernama asri sumiati yang tinggal di sebuah desa bernama desa karang wetan, yang letaknya berada di bawa pegunungan.
Di desa itu kehidupan masyarakatnya masih cukup terisolasi dari dunia luar dan masih kental dengan tradisi klenik, mereka masih sering melakukan ritual-ritual kuno dan sesajen sebagai bentuk penyembahan kepada roh-roh lehurur di tempat-tempat keramat yang berada di desanya.
Pada suatu hari dibulan desember desa itu dilanda oleh bencana banjir bandang akibat sungai yang ada di pinggiran desa meluap akibat curah hujan yang sangat lebat di malam itu.
Walau pun tidak memakan korban jiwa, tetapi banyak ternak dan hasil bumi warganya yang hanyut terbawa oleh arus banjir.
Setelah kejadian itu kepala suku desa mulai merapatkan dan mengumpulkan warganya agar mereka mulai aktif kembali melaksanakan ritual-ritual khusus yang lebih sakral di desa karang wetan agar tidak terjadi bencana seperti itu lagi di desanya.
Kepala desa:
Bapak-bapak, Ibu-ibu, mulai dari sekarang kita harus lebih giat lagi dalam memberi sesaji untuk para leluhur kita dan untuk para roh penunggu desa karang wetan, agar mereka tidak marah kepada kita dan di desa kita tidak terjadi bencana seperti ini lagi.
Memang sekarang ini generasi muda kita banyak yang kurang memperhatikan dan kurang peduli lagi dengan tradisi yang sudah kita lakukan turun-temurun yang sejatinya sebagai upaya untuk kita meminta perlindungan dan keselamatan dari para roh leluhur nenek moyang kita di desa tersyang kita karang wetan ini.
Nah oleh sebab itu diperkumpulan kali ini saya akan kembali mengingatkan para warga saya di desa karang wetan ini agar supaya kembali melaksanakan tradisi leluhur kita yang sudah dilaksanakan sejak dahulu kala, yaitu melakukan ritual-ritual khusus yang lebih sakral dan lebih semarak.
Warga:
Maaf Pak saya memotong pembicaraan bapak, bukanya kami tidak mau memberikan sesajen dan melaksanakan ritual-ritual khusus yang telah dilakukan leluhur kita secara turun-temurun itu pak, tetapi bagaimana kita akan memberikan sesajen, lah wong ternak dan hasil bumi kami saja sudah ludes terbawa arus saat banjir bandang melanda desa kita kemarin, Pak!
Kepala Desa:
Ya, saya tau, saya mengerti kondisi Bapak/Ibu sekalian, tapi jika kita masih tetap enggan untuk melaksanaan ritual khusus itu, mungkin akan ada bencana yang lebih besar lagi yang datang dan akan menimpa kita semua nantinya.
Cobalah kalian berusaha dan berpikir, bagaimana pun caranya kita harus bisa melaksanakan ritual khusus itu, begini saja coba kalian kumpulkan segala sisa-sisa bekal yang kalian punya, lalu bawalah kemari biar aku dan Mbah Rejo (paranormal) nanti yang memilih dan memilah mana yang bisa dan pantas untuk dibuat sebagai sesaji penyembahan di bawah pohon besar yang berada di pinggir sungai itu agar desa kita selamat dari segala macam bahaya dan bencana.
======= 01 =======
Sekembalinya warga dari perkumpulan itu, mereka mulai mencari solusi agar mereka dapat melaksanakan apa yang sudah diperintahkan oleh kepala desa tersebut.
Pak Roni: Bu.. Buka pintunya!
Ibu: Iya, iya sabar toh pak!..
Pak Roni: Asri mana bu?!
Ibu: Asri sudah tidur pak, kenapa kok nanyain asri?..
Pak Roni: Ah, gadis kok jam segini udah tidur loh bu, harusnya kan bikin-bikin cemilan atau lauk untuk Bapaknya makan!..
Ibu: Kok ngomel-ngomel toh Pak, kalo cuman lauk dan cemilan kan Ibu juga bisa membuatkan..
Pak Roni: Ya udah bu bikinkan bapak kopi dulu..
Ibu: sabar toh pak, ibu buatkan sebentar.. terus bagaimana hasil perkumpulanya pak?
Pak Roni: Hasil perkumpulan tadi warga disuruh membawa sesaji dan dikumpukan ke rumah kepala suku agar nanti dipilih mana yang pantas untuk di sajikan dan sesaji itu akan di urus oleh mbah Rejo..
Ibu: Oh, ritual khusus ya pak, setau ibu ritual khusus itu biasanya memakai tumbal, api atau kerbau, tapi kan ternak warga desa telah habis terbawa arus lalu apa yang akan di tumbalkan Pak?!..
Pak Roni: Nah itu bu, bapak juga bingung, apa yang akan ditumbalkan supaya desa kita ini aman dan tentram dari segala macam bencana.
Ibu: Ya mungkin roh leluhur ngamuk karna memang anak-anak generasi sekarang ini tidak lagi melaksanakan tradisi-tradisi kuno yang sudah turun-temurun dilakukan, jadi para roh leluhur marah ya Pak!..
Pak Roni: Nah itu dia Bu, tadi juga Kepala Suku bilang begitu!
Ya sudah Bu, bikinkan bapak kopi dulu dan jangan lupa ya bu gulanya sedikit saja..
Ibu: Oke pak, ibu buatkan kopi dulu..
======= 02 =======
Setelah meminum kopi itu terdengar lah suara kentongan yang sangat keras, lalu Bapak asri lari keluar menuju arah suara kentongan tadi.
ternyata di pusat suara kentongan itu warga menemukan sesosok mayat, mayat seorang wanita tua, yang kabarnya ia tinggal sendiri di sebuah gubuk di dalam hutan.
Pak Agung:
Kalau tidak segera kita kuburkan mayat ini, nanti malah akan jadi heboh, mari kita kuburkan saja sekarang mumpung hari belum gelap.
Bapak Asri:
Mari, kita kuburkan di perkebunan kosong di dalam hutan itu saja, supaya mayat ini tenang dan tidak penasaran di desa kita.
Lalu Bapak-bapak yang lain pun setuju dengan usulan Bapak Asri tersebut, mereka menuju lokasi dan menguburkan mayatnya, tetapi ketika mereka hendak pulang mereka dicegat ular besar, ular gunung yang besarnya sebesar pohon kelapa, tapi ular itu hanya lewat dan tidak mengganggu mereka.
Pak Agung:
Wah, pertanda apa lagi ini bukanya ular sebesar ini biasanya tinggal di dalam gunung yang sunyi, kenapa mereka turun ke dekat pemukiman warga.
Bapak Asri:
Kalau tidak diantisipasi mungkin ular itu akan memakan salah satu warga kita terutama anak-anak?!..
Bapak-bapak lainya:
Kalau begini kita harus bunuh saja ular besar itu!..
Bapak Asri:
Hah!, kamu sudah tidak waras apa, ular itu ular keramat penunggu gunung karang wetan, jika dibunuh nanti malah akan membawa kesialan 7 turunan.
Pak Agung:
Baiknya pagar jalan menuju kehutan ini kita tanami pohon berduri saja supaya ular enggan masuk ke desa.
Memang akhir-akhir ini desa kita sedang banyak cobaanya, marilah kita semua bersama-sama saling membangun dan menjaga tata krama di desa ini, supaya desanya subur dan lestari.
====== 03 ======
Pak Asri laporan ke kepala suku, Pak, Pak tadi saya lihat ular pak.!
Kepala suku: Ular apa?!
Bapak Asri: Ular besar pak dia berjalan di hutan dekat dengan pemukiman!
Kepala suku: Lalu apakah kalian Bunuh?!
Bapak Asri: Tidak pak, kami yakin itu ular keramat!
Kepala suku: Benar!, tidak salah lagi dia minta tumbal, agar supaya desa kita selamat dari musibah.
Kau keberatan tidak?!
Bapak Asri: Keberatan apa pak?!
Kepala suku: Jika anakmu si asri ditumbalkan demi keselamatan desa dan kita semua, karna akhir-akhir ini desa kita banyak musibah, jika kita tidak cepat bergerak maka desa dan beserta isinya akan lenyap.
Bapak Asri: Kenapa musti anak saya Pak, apakah tidak ada cara yang lain untuk ditumbalkan?!
Kepala suku: Tidak!, karna anakmu masih suci, maka itu adalah salah satu tumbal yang wajib yang garus diberikan setidaknya sekali seumur hidup, supaya desa ini dan penerusnya selamat 7 turunan!
Bapak Asri: Lalu apa yang harus saya lakukan
Kepala suku: berikan anakmu kepadaku lalu besok kita ikat tubuhnya di pohon besar itu, maka kita akan melihat jika korban itu diterima maka korban itu akan hilang lenyap dengan sendirinya.
Bapak Asri: Walau berat rasanya hati ini tapi demi desa dan isinya saya akan mengorbankan anak saya sebagai tumbal penolak bala.
Lalu Bapak Asri pulang dan membujuk asri untuk ikut denganya (memanen sayuran liar yang ada pegunungan) dengan imbalan uang.
Bapak Asri: Asri besok ikut bapak ke gunung mencari sayuran liar untuk dijual ibu dipasar.
Ibu Asri: Jangan Pak Asri kan badanya alergi kalau di gigit nyamuk, kasian dia.
Bapak Asri: Sudah ibu diam saja, nanti asri bapak upahi 100 sen, lagi pula bapak selalu membawa obor dan bedian untuk mengusir nyamuk yang ada di hutan.
Asri: Baik Pak, Tapi tapi uangnya kasih dulu ke Ibu untuk tambah-tambah ibu membeli bahan jahitan untuk menjahit gaun asri yang akan asri gunakan saat menikah suatu saat nanti.
Bapak Asri terdiam..
Ibu Asri: Oalah sri.. sri.. kamu kepikiran nikah aja, udah kebelet nikah ya nak ya, yang sabar ya, nanti ibu tabungkan uang dulu supaya bisa menikahkan kamu, hm.. seandainya hasil panen dan ternak kemarin tidak hanyut diterjang banjir, sudah pasti Ibu bisa menabung dan kumpul-kumpul duit untuk biaya kamu menikah suatu hari nanti.
Bapak Asri: Yo uwes, besok pagi kamu siap" ya sri, kita berangkat sehabis subuh, jangan lupa kamu mandi dulu yang bersih.
====== 04 ======
Keesokan harinya berangkatlah Asri dan Bapaknya ke dalam hutan untuk mencari sayur-sayuran liar, ditengah jalan pak kepala dusun dan mbah rejo sudah siap membawa tali dan kain kafan serta sesajian untuk pelengkap tumbal, lalu tanpa basa-basi di tengah jalan Asri pun di bekap dan di tutup mulutnya lalu dililitkan kain kafan dan di ikat di pohon besar itu, setelah ia diikat, lalu dibakarlah dibawahnya beberapa obor untuk menerangi sesajian yang dibawa oleh mbah rejo berupa kemenyan, bunga-bungaan dan juga buah-buahan, lantas mbah rejo membacakan mantra, sambil mbah rejo komat-kamit mereka melihat ke arah asri yang meronta-ronta ingin dilepaskan, aliran sungai pun terlihat cukup deras disebelahnya.
Pak kepala Dusun:
Pak Asri, jadi ular yang bapak lihat kemarin itu yang turun dari atas gunung itu, menurut cerita nenek moyang saya, jadi dulu badan ular itu digunakan untuk memapak air yang dari atas gunung, dimaksudkan agar air yang dari atas gunung itu membendung dibadanya dan tidak jatuh ke bawah kepedesaan, nah saat ular itu turun ke desa maka tidak ada lagi yang membendung air yang dari atas makanya terjadilah banjir. Maka jika ular itu kembali ke atas maka keadaan seperti kemarin yaitu banjir bandang tidak akan terjadi lagi, karna sangat merugikan dan menghancurkan segala harta benda berikut materil yang dimiliki warga.
Pak Asri: Benar pak, saya percaya ucapan bapak..
Mbah Rejo masih saja komat-kamit sampai terdengarlah suara semak-semak bergerak dan suara desisan ular yang sangat besar.
Kepala Dusun: Mari pak mari kita pergi, kelihatanya penunggu gunung ini sudah mengetahui kedatangan kita.
Mbah Rejo: Selamet, selamet, selamet gunungnya, selamet sungainya, selamet warganya, subur tanahnya dan lestari alamnya.
Maka pergilah mereka kembali ke dusun.
Di sisi lain si Asri pun menjadi santapan ular besar penunggu gunung karang wetan tersebut, ular itu melilit pohon dan meremukan badanya, lalu dilahaplah si asri yang sudah lemas tak berdaya, setelah melahap si asri ular itu kembali masuk ke dalam hutan karna dirasa sudah kenyang dan mungkin akan kembali lagi saat dia lapar.
30 tahun berlalu, kepergian si asri memang menjadi cerita misteri di desanya, warga yang tidak mengetahui asri menjadi tumbal hanya menduga duga asri di culik atau dipersunting oleh penunggu hutan.
Yaitu dedemit penunggu karang wetan atau pun para memedi disana.
Di generasi selanjutnya desa itu benar-benar sudah tidak tersentuh lagi dikarnakan penghuninya yang sudah banyak yang meninggal dan pudanya pun sudah banyak yang merantau, tetapi pohon tua di dekat sungai itu tetap menjadi tempat untuk memuja pesugihan atau penglaris serta pengobatan.
Banyak orang yang kesana untuk memohon dan meminta keberuntungan serta kesembuhan melalui perantara seorang juru kunci yaitu cucu mbah Rejo bernama Ki Darma Prayitno.
Dan benar setelah memuja disana banyak orang yang berhasil dan diberi keberkahan serta keberhasilan secara instan, hanya saja ada tumbalnya, yaitu tumbal gadis yang masih perawan.
Cara menumbalkanya pun sudah berbeda dengan yang lalu-lalu, tumbal yang sekarang cukup di arungkan ke sungai sampai ia tenggelam dengan sendirinya.
Dan membuat tempat itu sangat angker sampai-sampai menjadi pusat kerajaan Jin terbesar di daerah itu yang dipimpin oleh rohnya si Asri, Asri pun menjadi ratu dari pada roh korban tumbal-tumbal itu.
Asri membagi luas kekuasanya dibagian barat, timur, selatan dan utara.
Di desa-desa ia tempatkan beberapa memedi terkuat untuk menjaga desa.
Di bagian barat ia menguasai danau dan persawahan serta rerumputan yang sangat luas, dibagian timur ia menguasai lereng gunung, goa-goa serta dataran luas, di sebelah selatan ia menguasai desa mati karangwetan, dan di sebelah utara ia menguasai desa-desa yang berada di bawah kaki gunung karang wetan.
Beberapa roh penasaran yang usil dan jahil biasanya suka merasuki warga desa, membuat sakit dan juga membuat orang kecelakaan, dilain itu hawa negatif yang diberikan membuat warga banyak yang hidupnya duniawi, mabuk-mabukan, kriminalitas dan juga premanisme.
Dan mereka semua diberi perlindungan oleh Asri, Asri pun memberi kedigdayaan kepada orang-orang yang memujanya seperti kekebalan, pelet, ilmu santet dan juga teluh.
Tidak hanya roh-roh tumbal saja yang berkumpul di kerajaan Asri tapi juga roh-roh para pemuja dan roh para warga yang kehidupanya duniawi, roh-roh kelas pekerja dipaksa untuk bekerja membangun kerajaan gaibnya.
-picsay.jpeg)
Komentar
Posting Komentar